KaltimKutai Timur

Dari Sekolah Pinggiran Menjadi Rujukan Literasi, Smansatset Rayakan Lompatan Besar Lewat Gebyar Karya IV

82
×

Dari Sekolah Pinggiran Menjadi Rujukan Literasi, Smansatset Rayakan Lompatan Besar Lewat Gebyar Karya IV

Sebarkan artikel ini

SANGATTA – Perjalanan SMA Negeri 1 Sangatta Selatan (Smansatset) menepis stigma lama sebagai “sekolah buangan” kini mencapai titik penting. Melalui Gebyar Karya IV, Kamis (18/12/2025), sekolah yang berada di Jalan Guru Besar ini menampilkan wajah baru pendidikan yang adaptif, kreatif, dan berbasis teknologi.

Gebyar Karya IV menjadi ruang apresiasi atas proses belajar yang tak lagi terpaku pada angka rapor. Orang tua siswa disuguhkan langsung berbagai karya dan keterampilan anak-anak mereka, mulai dari seni, literasi, hingga produk pembelajaran berbasis praktik.

Kepala Smansatset, Rubito, menyebut perubahan yang terjadi bukan instan, melainkan hasil dari keberanian mengubah pola lama. Ia menegaskan filosofi “Satset” yang diusung sekolahnya bermakna sigap dan tanggap membaca kebutuhan zaman.

“Smansatset tidak lagi berjalan di tempat. Kami bergerak cepat mengikuti perubahan, dan hasilnya kini mulai dirasakan,” ujar Rubito.

Di bawah kepemimpinannya, Smansatset menjadi sekolah yang meninggalkan papan tulis konvensional dan beralih penuh ke media pembelajaran digital interaktif. Kurikulum pun diperkaya dengan konsep SMK Plus, membekali siswa dengan keahlian nyata melalui laboratorium Tata Boga, Tata Busana, dan Multimedia.

Transformasi tersebut bahkan menarik perhatian sekolah lain. Rubito mengungkapkan, sekolah dari Penajam Paser Utara (PPU) datang ke Smansatset untuk melakukan studi tiru, khususnya dalam penguatan literasi dan pembelajaran berbasis karya.

Komitmen Rubito terhadap Smansatset juga tercermin dari keputusannya menolak tawaran memimpin sekolah internasional di luar negeri.

“Saya memilih bertahan karena yakin Smansatset punya potensi besar untuk berkembang dan memberi dampak,” katanya.

Perubahan Smansatset diperkuat melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Pemprov Kalimantan Timur, serta mitra industri seperti PT KPC dan jaringan ritel nasional. Pada Gebyar Karya IV ini, Smansatset juga meluncurkan tujuh buku ber-ISBN karya siswa, menegaskan budaya literasi yang terus tumbuh.

Asisten Administrasi Umum Setkab Kutai Timur, Sudirman Latif, yang hadir mewakili pemerintah daerah, mengaku kagum melihat perkembangan sekolah tersebut. Ia menilai Smansatset telah membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh label masa lalu.

“Smansatset hari ini adalah bukti bahwa sekolah bisa berubah ketika diberi ruang dan kepemimpinan yang tepat,” ucapnya.

Ia juga mengapresiasi bakat siswa yang ditampilkan, mulai dari seni musik, puisi, tari, hingga karya kreatif lainnya. Menurutnya, pendekatan pembelajaran seperti ini sejalan dengan komitmen Pemkab Kutim dalam membangun sumber daya manusia unggul.

Dalam kesempatan itu, Sudirman turut mengungkap rencana pembangunan Sekolah Rakyat Berkelas Internasional di kawasan Sangatta Selatan, sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan berkualitas di Kutai Timur.

Gebyar Karya IV ditutup dengan pertunjukan seni, fashion show karya siswa Tata Busana, serta pembacaan puisi. Bagi orang tua, momen ini menjadi bukti bahwa sekolah tidak hanya mencetak nilai, tetapi juga karakter, keterampilan, dan kepercayaan diri siswa.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *